Tentang Saya ?

Posted by

Sebetulnya agak bingung mendefinisikan apa sebetulnya isi halaman about me yang benar pada sebuah blog, atau website. kebanyakan penulis memajang karya – karya nya. dan kebanyakan best seller. lengkap dengan testimoni yang –biasanya- dari orang – orang super terkenal, tahun terbit, dan hitungan cetakan. tapi sayangnya satu karya pun dalam bidang kepenulisan masih belum sempat. atau mau diisi kayak para politikus yang isinya riwayat perpolitikan ? hemm ….. jangankan berpolitik, syuro aja gue suka lupa agendanya. atau mau kayak ilmuwan – ilmuwan yang halaman about me diisi dengan rentetan penelitian, jurnal ilmiah, presentasi kelas internasional, proceeding. atau segala profesi dibidang keilmuwan. Hemm … keren juga, tapi sayang banget. kimia TPB gue aja cuma dapet C.

Tapi setelah lirik kanan – lirik kiri, dapet ide bagus juga dari sini yang halaman about me-nya diisi dengan testimoni tentang ‘kenapa sih harus menulis’. dan, bisa jadi rasa ini berlaku subjektif. jadi, kalau ada yang terinspirasi karena alasan yang ada disini, alhamdulillah … tapi, kalaupun tidak dan dirasa berbeda dengan yang dirasa, mohon maaf. ilmu saya memang tidak banyak.

Oh iya, memulai kebiasaan menulis sebetulnya semarak sewaktu SMP. dimana gue pribadi yang mengalami cultural lag baru ketemu internet. jujur, waktu itu, gue sama sekali gak tau google itu mie goreng rasa apa. yap. dan ruma pertama gue ada disini walaupun isinya kebanyakan rada ngaco, ya blog MP itu tetep ga bisa dihilangkan dari sejarah gue dalam menulis. dan seiring perjalanan dengan berkembangnya hobi manusia dalam nge-blog. ya, gue pun mengembara ke rumah baru. ada yang blogger dan sekarang udah punah. dan terakhir wordpress.com ada disini. dan proses updatenya pun berkembang. dari mulai gue nulis di sebuah text file disimpen di flashdisk terus update di warnet, terus make modem 3G yang kecepatannya cuma 3 Kbps, sampe sekarang yang pake channel XML-RPC.

tapi, buat pertanyaan intinya, kenapa sih menulis ?

pertama, menulis itu mengokohkan pemahaman. jadi inget, dulu sewaktu SMA pernah ikut lomba. gue dan seorang temen, namanya Anas. mencoba menulis –kita menyembutnya- manuskrip. sejenis teks, yang isinya paragraf – paragraf yang kita ingin presentasikan. dan alhamdulillah, hasilnya memuaskan.

dan menurut pengalaman gue, segala informasi yang kita masukkan ke harddrive otak kita masih berupa serpihan – serpihan puzzle. memang ada, tapi belum tentu berhubungan, dan kita gak pernah kebayang secara holistik akan informasi tersebut. nah merenung menyatukan serpihan – serpihan tersebut, dan menulis adalah proses mengabadikan gambar besar tersebut.

makanya, kebanyakan yang gue tulis bersumber dari materi waktu kongkow bareng si om, buku yang gue baca, atau penggalan kejadian sehari – hari. ada begitu banyak banget informasi yang masuk ke dalam otak kita kita setiap hari !

kedua, menulis itu menajamkan pemikiran. menulis itu berarti menyajikan sesuatu, dan dalam menyajikan sesuatu gak mungkin splitted. kita harus punya gambar yang besar –sehingga terlihat oleh semua orang- dan gambar yang memukau. kalo masalah memukau sih masalah asah mengasah. semakin sering menulis, semakin tajam. tapi at least punya gambar yang besar dan lengkap, butuh perenungan yang mendalam. butuh informasi yang ga sedikit. kadang, kita butuh banyak banget referensi – referensi dari luar. dan disini timbul tantangan baru. pertama, tantangan sejauh mana pengetahuan kita tentang referensi yang tepat. referensi banyak, tapi memilah yang tepat kita butuhkan butuh keahlian lebih. kedua, setelah punya referensi, menghubungkan antara topik dan referensi juga hal yang menantang. kadang referensi itu tidak kita ambil semua, ada yang diambil sepotong dari kanan, dari kiri, atau bahkan tidak jarang yang kita ambil adalah makna dibalik referensi tersebut. ketiga, menyusun semua menjadi gambaran utuh. yang ini masalah keteraturan bagian. mana yang cocok dijadikan awal, klimaks, atau kalimat penutup.

dan seringkali, inilah yang menimbulkan kenikmatan ketika menulis. ketika menyelesaikan gambaran besarnya, terus kita lihat lagi. gue sering banget ketawa. ternyata ilmu gue emang gak banyak.

ketiga, menulis itu …. bebas ! ketika menulis, seorang menulis ya menghadapi alat tulisnya. laptop, pulpen dan kertas, mesin tik, or whatever. tidak banyak variable yang dipikirkan ketika menulis. agak berbeda dengan berbicara. walaupun kedua – duanya –menulis dan berbicara- adalah dua bentuk komunikasi yang sama – sama bertujuan menyampaikan pesan, tapi beda kesulitan.

berbicara menuntut kita mengenal medan dengan sangat teliti. mulai dari tingkat pemahaman pendengar, mood sang pendengar, usia, jumlah pendengar, sampai ke peralatan untuk berbicara pun mempengaruhi bagaimana kita berbicara. kotaknya terlalu kecil buat menampung gambaran besar gagasan kita !

sedangkan menulis, justru berbanding terbalik. ketika kita menulis, justru orang yang menafsirkan kita seperti apa, bagaiamana pemahaman kita, latar belakang kita, keseharian kita. kita tidak memperhitungkan mood atau jumlah pembaca. kita tidak mempenghitungkan usia.

pemahaman, mungkin masih kita perhitungkan sedikit demi sedikit terkait dengan segmentasi pembaca. tapi, itu pun kita punya tema khusus. ketika menulis bebas ya bebas ! ada kotak besar yang bisa kita isi disini.

dan terakhir, sepertinya untaian kata Ustadz Salim A. Fillah memang paling tepat

Dengan menulis saya merekam jejak-jejak pemahaman saya; mengikat ilmu, lalu melihatnya kembali untuk—sesekali—menertawakannya. Dan saat saya telah bisa menertawakan kebodohan saya beberapa waktu lalu yang tecermin dari tulisan saya ketika itu, saya jadi tahu, alhamdulillah saya telah mengalami sedikit kemajuan.

 

jika hidup kita selalu ada proses input memori maka, menulis adalah proses pemurnian firman Tuhan. dan kita mengabadikannya. dan mungkin begitulah takdir kita. Diisi untuk selalu mengisi (Q.S. Ali-Imran : 79)