Yang Ja(t)uh

Posted by

Salahsatu pelajaran yang memberikan insight menurut gue adalah Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV).

Pelajaran ini pula, sampai saat ini, menurut gue –yang dhoif ini- merupakan best explanation dari firman Allah,

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”

(Q.S. Al-An’am : 59)

… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya ….

Pelajaran SPLDV bercerita bahwa pada sebuah bidang kartesius; akan ada 2 wilayah : wilayah kemungkinan, dan wilayah ketidak mungkinan. Wilayah ini dibagi oleh garis – garis pembatas dengan fungsi tertentu, disebut konstrain.

garis – garis pembatas ini sifatnya mandatory, udah dari sananya. sama kayak hidup. diri kita ini ada yang dilahirkan dengan kondisi tertentu; kaya, miskin, berfisik kuat, berfisik lemah, tinggal dipesantren, atau tinggal dibelakang pasar, dan seterusnya.

wilayah yang berada didalam garis pembatas lah, seluruh sumber daya yang bisa kita akses. dan begitu juga sebaliknya, wilayah yang diluar garis pembatas, jangan harap bisa kita coba, kecuali fungsi dari garis pembatasnya berubah. sama seperti lauhful mahfudz, sudah mandatory dari sananya sejak zaman azali. tidak akan berubah, kecuali yang punya lauhful mahfudz nya merubahnya.

tugas kita sebagai orang yang belajar SPLDV adalah, bagaimana mencari titik terbaik pada wilayah kemungkinan yang dapat menghasilkan nilai optimum. Hidup juga begitu. makanya, salahsatu sabda nabi salallahualaihi wa salam adalah, khairun naas ‘anfauhum lin naas; manusia yang terbaik adalah yang ‘anfauhum. yang bermanfaat.

masalah selanjutnya yang timbul pada wilayah kemungkinan adalah mencari titik terbaik itu sendiri. cara yang jelas pasti adalah mencoba setiap titik kemungkinan satu-demi-satu untuk menghasilkan nilai paling optimum. tapi tidak bisa gitu !

kita punya ‘waktu main’ yang terbatas.

oleh karena itu, cara paling cepat adalah menduga titik terbaik. betul, menduga. tapi, walau hanya sebatas dugaan, secara sekilas, kita dapat melihat bahwasanya titik terbaik akan selalu berada ditepi wilayah kemungkinan. berdampingan dengan garis pembatas dan wilayah ketidakmungkinan itu sendiri.

makanya, kalau kata steve jobs, Your time is limited, so don’t waste it living someone else’s life. jangan hidup dengan hidup orang lain, jangan bermain diwilayah kemungkinan orang lain. karena bisa jadi bentuknya beda !

gue pribadi memaknai menduga titik terbaik dengan keep movingkeep trying. terus bergerak, terus ketuk pintunya. sampai kita mengeluarkan seluruh apa yang kita bisa, apa yang kita punya untuk sampai keujung wilayah kemungkinan. seberapa cepat kita sampai kesana, tergantung diri kita, seberapa cepat ? seberapa kuat ? seberapa hebat ? makanya  do it faster, harder, stronger, better.

… dan sewaktu turun dari kereta tadi, gue jadi teringat tentang ayat,

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.

(Q.S. Al-Baqarah : 214)

pembuktian akan ayat ini pula lah, ibrah yang bisa diambil ketika temen – temen IMAGO Indonesia tertatih – tatih (khususnya si master marbot) yang rela blusukan keliling bogor buat nyari rumah singgah untuk aktivitas kami.

dari ayat ini, kita belajar maknawiyah tentang ‘ujung wilayah kemungkinan’ itu sendiri; tentang sabar, tentang tawakkal dalam menjalani proses mencari titik terbaik.

kadangkala, analogi inilah yang gue pakai untuk memberikan keyakinan pada gue pribadi tentang surat Al-An’am ayat 59 diatas, yang nantinya akan berujung pada memaknai hubungan antara usaha dan takdir.

kita bergerak, mencoba mencari titik terbaik, itu usaha. Tapi, fungsi garis – garis pembatas, dan fungsi garis hidup, itu takdir. Buat ngerubahnya kita minta sama yang punya takdir. makanya kalau kata babeh prof, usaha dan takdir, keduanya merupakan syarat perlu. tapi bukan syarat cukup.

makanya, mungkin gue memang masih perlu banyak belajar. Bahwasanya apapun itu; baik itu yang jatuh, maupun yang jauh. semuanya under his survaillance. berada dibawah pengawasanNya. tinggal kita berusaha, sembari meminta. kalau seandainya nanti memang fungsi garis hidup kita tidak melewati titiknya, berarti memang bukan begitu di fungsinya..  sekeras apapun gue meminta, sesedih apapun gue berduka.

 

Tags: , , , ,

Leave a Reply