Menikah ? ….. #YaElah

Posted by

Kadang – kadang gue suka ketawa sendiri, kalo ada orang yang bilang kalo hidup ini lucu. gue rasa itu bener.

 

.somehow, god rule this world throught some unpredictable formula.

semuanya tidak pernah berjalan linier. orang berubah, pikiran berubah, sains berubah, dengan arah yang benar – benar …. unpredictable.

eh, sebetulnya bukan unpredictable, tapi memang tabiat manusia untuk lemah, dan tidak banyak tahu. kita mah apa atuh 🙂

 

sama kayak ide yang satu ini : menikah.

gue dan beberapa temen – temen SMA bikin sebuah grup –kalo ga mau disebut geng- kita menamakannya petisi piala.

goal akhir dari grup ini sebetulnya simple, sesuai namanya kita bakal ngasih piala ke orang yang pertama kali menikah. that’s it.

oh, sedikit tebakan buat grup ini, kayaknya semua orang di grup ini tergolong PGM, alias Pengharap Galur Murni; ini sebutan gue bagi orang – orang yang punya idealisme akan pentingnya pelestarian pernikahan dengan wanita (or laki-laki) satu SMA.

 

.yoi, it’s my senior high school. yang kadang – kadang gue merasa ini lebih mirip gedung perjodohan dibanding sekolahan.another ridiculous life. haha.

balik ke topik utama. jadi intinya disaat grup ini dibuat, saat kita kelas 3 SMA, kita udah berpikir bahwa kita harus menikah (yaiyalah!).

 

cuma, seperti kata prof. jujun jumiyati, ilmu pengetahuan akhirnya bersifat pragmatis. sehingga jika ia sudah tidak relevan, maka ia ditinggalkan.

begitu juga pandangan gue soal ‘menikah’.

menikah, it’s not just … love, atau ibadah. ada konsekuensi setelah itu, dan sepertinya ada syarat yang secara alfabetis harus kita penuhi. iya ga sih ?

gue rada sotoy, tapi kayaknya kita –terutama aktivis masjid- terkadang menjadikan ‘menikah cepat’ sebagai solusi buat ‘gak pacaran’.

 

nih, gue kasih nightmare:

menikah lebih dari sekedar kebutuhan nafkah yang kadang – kadang kita (para ikhwan?) pun belum punya. jujur deh, kita masih berpikir kalo ngelamar anak gadis orang (punya orang !) dengan modal dengkul itu keren, coba pikir lagi.

… bokapnya orang kaya, dia masih bisa makan macaroni panggang setiap akhir pekan. sehabis menikah dengan kita yang dengkulnya ga bisa menghasilkan duit, she stopped it at all.

mungkin dia makan udang rebon 7 hari dalam seminggu karena menikah dengan kita yang ga punya persiapan.

… keluarganya kaya, karenanya dia ga pernah nyuci pake tangan. sehabis menikah dengan kita yang dengkulnya ga bisa menghasilkan duit, she wash all of your clothes with her hand.

mau nyari istri apa tukang cuci mas (T.T) *nangis di pojokan*

 

ohiya, sebelumnya … ada yang pernah cari tahu harga buat bersalin berapa ? coba cek deh ! it’s seems legit.

 

eniwey, dua contoh diatas emang lebaynya ampe tumpeh – tumpeh, sekarang gue serius. ada yang lebih urgent dari cuma cerita diatas.

gue masih stuck bahwa menikah itu adalah membina. biasanya kalo kita terbiasa membina, ngisi halaqoh, ya cuma 2 jam. 2 jam.

selama 2 jam, kita diminta bersikap baik, bijak, penyabar, keren, cool, awesome, dan ganteng. oke, intinya selama 2 jam kita diminta (atau dengan terpaksa) act like an angel. materi yang mau kita sampaikan hari itu, semua jalan ceritanya, kita udah bikin dirumah.

kalomenikah ? sama – sama membina, tapi it’s run in whole of your life, whole hours, whole minutes,whole seconds.

.every seconds. each second.

dituntut menjadi pembina, supporter, pengambil keputusan, penghibur, guru, ulama, syaikh, pemimpin, prajurit, pengerti, pemasok semangat, pemasok ruhiyah, pemasok ilmu, disetiap hembusan nafas, dan disetiap detiknya. kayaknya pantas aja proses nikah itu bukan cuma ngerubah yang haram jadi halal, itu mah cuma sedikit ‘hadiah’ buat konsekuensi mitsaqan ghalizah.

 

hadeuh … dan, pada akhirnya kita (semua) memang harus banyak belajar.

One Response

  1. sabihah Abi says:

    cen,,cen,, kurang-kurangilah sen

Leave a Reply