Rencana Menuju Kebaikan

Posted by

anywey, rasanya penting buat dibriefing dari awal soal keberpihakan. keberpihakan itu adalah keniscayaan.

apalagi soal milih pemimpin. secara syar’i kita memang di-harus-kan memilih –dan memihak- pemimpin yang terbaik bukan ? terbaik dari segala sisi. memang rada idealis, tapi tidakkah kita memang rindu pada pemimpin yang bersih secara track record ?

tidakkah kita rindu dengan pemimpin yang segala keputusannya, mempercepat perbaikan negeri ? perbaikan tidak hanya berbicara tentang infrastruktur : jembatan, bangunan, fasilitas. tapi juga soal moral.

tidakkah kita rindu, dengan pemimpin yang bukan hanya jadi commander-in-chief, tapi juga menjadi seorang qudwah (teladan) ? atau pemimpin yang masih sempat mengimami shalat, mengisi khutbah setiap bulan,  atau bahkan mengisi kajian di akhir pekan ?

atau jangan – jangan kita sudah sepakat bahwa pemimpin yang baik secara spiritual dan skill, hanya terjadi pada zaman para nabi … lalu berkata,

Asaatirul awwalain … ah, itu cuma dongeng orang terdahulu !’

intinya, kita selalu (rindu) berpihak pada kebaikan. dan keberpihakan terhadap ‘Kebaikan’ tadi, membutuhkan perjuangan. bukan serta – merta terjadi.

tapi tidak di semua tempat ‘kebaikan’ tadi bisa tercipta. ada dua hal yang perlu dipastikan : Kondisi Eksternal, dan internal.

Kondisi Internal

sebelum lebih jauh, kita bicara soal teori matematik yang terkenal : distribusi gauss.

natural curve

Distribusi gauss, atau biasa disebut juga kurva normal, dipakai karena emang banyak kejadian di alam yang berlangsung sejalan dengan kurva; efek pupuk terhadap tanaman misalnya. atau sebaran siswa pintar dan berkebutuhan khusus dalam satu kelas, atau bahkan ke skala yang lebih besar : kecenderungan suara pemilu.

nah, secara matematis jumlah orang yang sepakat tentang ‘kebaikan’ dan jumlah orang yang mau berbuat kerusakan ada di dua titik ekstrim. A dan B. intinya: keduanya sama – sama sedikit.

yang banyak justru floating mass (Massa yang mengambang) di tengah tengah.

parameter internal kita tadi berbicara soal :

Pertama, sudah rampungkah ‘kebaikan’ yang akan kita bawa kehadapan publik ?

kebaikan disini ada banyak bentuk. Jika kita maknai kebaikan ini soal sebuah kegiatan, maka parameter rampungnya berbicara tentang segi teknis; peserta, jenis kegiatannya, atau efektifitasnya.

atau jika ‘kebaikan’ ini kita maknai sebagai seorang calon pemimpin, maka parameter rampung untuk si ‘kebaikan’ ini mengarah pada kapasitasnya menjadi seorang pemimpin. sudah siapkah ia ?

Kedua, kesanggupan sumberdaya yang kita miliki, sehingga sanggup menarik floating mass tadi ?

parameter ini lah yang nantinya akan menjadi gambaran kekuatan kita. seberapa banyak kader yang bisa digunakan sebagai opinion leader ? seberapa banyak fasilitas yang bisa kita gunakan ?

Kondisi Eksternal

Kondisi eksternal inilah yang sebetulnya relatif sulit. karena kondisi eksternal sangat mungkin berubah drastis dengan tempo sangat cepat.

dan dalam mewujudkan sebuah gagasan, terbebas dari nilai yang dianutnya, membutuhkan persetujuan publik.

dan inilah kuncinya : demokrasi.

kita bisa memanipulasi kondisi eksternal dengan cara mendukung berjalannya sistem demokrasi. dengan sistem demokrasi maka kemungkinan untuk memenangkan persetujuan publik, lebih besar. karena semua pihak ada di garis start yang sama.

dengan adanya sistem demokrasi ini pula, kita bisa menghitung secara lebih akurat seberapa mungkin kekuatan interal kita mengalahkan lawan.

Penahapan

“Penahapan” kata Anis Matta, “merupakan sebuah keniscayaan yang alfabetis. sehingga peluang – peluang eksternal yang tersedia tetap tidak dapat dimanfaatkan apabila syarat internal untuk itu belum tercapai.”

Jadi, dalam prakteknya kedua kondisi tadi, adalah sebuah syarat mutlak untuk dipenuhi. dan terburu – buru dalam melangkah bukan berarti akselerasi. bisa jadi menciptakan jebakan baru yang akan mempersulit.

Tags: ,

Leave a Reply