Masa – masa Supremasi

Posted by

Beberapa hari kemarin, alhamdulillah masih dikasih kesempatan untuk jalan – jalan. walau cuma ke salahsatu perguruan tinggi ternama di Indonesia….. sebut saja Universitas Indonesia.

Tujuannya, sebetulnya mau beli buku, tapi sekalian cuci mata, dan cuci telinga. dan menyempatkan diri buat shalat jumat di sana. dan asyiknya, khotbahnya bagus ! jadi perjuangan ke UI, panasnya Depok, padetnya kereta, dan tingginya kecepatan jalan seorang Ikbal Faturohman yang bikin empot – empotan. jadi sebanding. jadi, gue pikir bagusnya juga buat di share sekalian disini.

Khutbah ini disampaikan oleh seorang dosen Hukum. cuma lupa namanya. dan, karena ga nyatet … gue berusaha untuk rekomposisi, semoga ga jauh beda.

Apabila bulan ramadhan datang maka pintu – pintu langit dibuka sedangkan pintu – pintu jahannam ditutup dan setan – setan dibelenggu (HR. Bukhari dan Muslim)

hadist tersebut mungkin menjadi salah satu gambaran mengapa ramadhan dikatakan syahrul syiam (Bulan yang mulia). ada tindakan spesial yang dilakukan oleh Allah, yang tidak terjadi dibulan – bulan lainnya. sampai – sampai Dr. Yusuf Qardhawi menganalogikan bulan ramadhan adalah sebuah pekan raya bagi orang – orang yang bertaqwa.

dan sewaktu disebut pekan raya, gue jadi teringat tentang konsep ekonomi sederhana tentang korelasi antara demand (permintaan) dan supply (Penawaran). Dimana ketika demand meningkat, maka supply pun ikut meningkat. secara garis besar, tujuannya adalah memperbesar keuntungan. dengan permintaan yang meningkat –dan selalu terpenuhi- secara logis meningkatkan laba penjualan.

oleh karena itu, memperbanyak ibadah di bulan ramadhan itu sendiri, seharusnya menjadi sebuah agenda global seorang muslim ketika ramadhan menyapa. karena pada hakikatnya, analogi pekan raya tadi berlaku disini, dimana kita adalah pedagang dan Allah sebagai pembeli. dan tujuan kita, adalah memperoleh laba sebesar – besarnya. Kita sebagai pedagang menjual waktu kita. dan Allah sebagai pembeli, hanya menginginkan waktu yang punya nilai ibadah di dalamnya. baik sifatnya mahdhah ataupun ghairu mahdhah.

tapi kemudian, pernahkah kita bertanya kenapa bulan ini menjadi begitu spesial ?

Ini merupakan anugerah tersendiri bagi ummat yang memiliki rentang waktu hidup yang singkat. memang sih 70 tahun itu bukan waktu yang sebentar, tapi dibanding dengan nabi Nuh yang berumur 950 tahun, jelas waktu 70 tahun sangat singkat dan tentu saja berdampak pada lamanya kesempatan kita untuk melakukan tobat dan kebaikan. tapi itu semua adalah takdir kita sebagai umat akhir jaman. dan, bulan ramadhan justru datang sebagai rahmat, untuk membiarkan kita memiliki pahala kebikan sama besar atau bisa jadi lebih banyak dari ummat yang berumur 950 tahun.

tapi, ada hikmah lebih spesial, mengapa ramadhan menjadi begitu spesial. yaitu supremasi.

Dibulan ini ada kewajiban zakat fitrah, sebuah kegiatan untuk membersihkan harta  yang dikenakan pada setiap orang yang mempunyai bahan makanan cukup untuk keluarganya malam ini dan esok hari.  dengan cara menyisihkan sebagian harta yang telah didapat dengan cara yang halal dan susah payah. untuk menolong sesamanya. dan kita semua tunduk melakukannya dengan satu alasan : beribadah.

dan dibulan ini juga terdapat sunnah untuk ber-I’tikaf. dimana setiap orang disunnahkan menetap di masjid, untuk fokus pada satu perkara : beribadah.

Dan yang lebih hebat lagi, di bulan ini setiap muslim yang baligh terkena beban untuk puasa wajib. dimana kita meninggalkan kegiatan makan dan minum, sebuah kegiatan dimana seluruh kehidupan dikolong langit ini bergantung padanya, selama kurang lebih 12 jam. hanya untuk sebuah alasan : beribadah. dan yang menjadi spesial adalah kebanyakan makanan dan minuman ini berstatus halal, yang didapatkan dari jerih payah dan proses berjibaku yang melelahkan.

tapi kita semua meninggalkannya dengan satu alasan : beribadah.

bahkan Sayyid Quthb berkata,”Ibadah Puasa adalah sebuah syariat wajar yang dibebankan kepada ummat yang juga dibebankan kepadanya kewajiban untuk berjihad” karena, kita melakukan puasa, dengan meninggalkan perkara – perkara yang halal untuk alasan beribadah. begitu juga dengan jihad. kita meninggalkan dan mengorbankan perkara – perkara yang halal karena satu alasan : beribadah.

Dapat terlihat bahwa ada sebuah supremasi (melebihkan sesuatu) yang kita lakukan disini. kita melakukan supremasi ruhani kita, diatas kepentingan – kepentingan yang lain. memang kita menganut konsep tawazun (keseimbangan) bahwa disamping ada kewajiban sebagai ‘abid kita juga punya kewajiban terhadap tubuh yang diamanahkan kepada kita, kewajiban terhadap keilmuan kita, kewajiban terhadap keluarga kita.

Tapi jika kembali pada analogi awal soal pekan raya, maka konsep tawazun harus dikelola dengan lebih bijak. karena jika tidak, kita akan tertinggal dan kalah laba dengan orang – orang yang memperkeras ibadahnya.

karena, bisa jadi. Ini adalah pekan raya kita yang terakhir.

Tags: , , , ,

Leave a Reply