Qadhaya (Permasalahan) Dakwah Sekolah

Posted by

Seiring dengan berjalannya waktu, para aktivis dakwah sekolah siswa (ADSS) bertransformasi menjadi Aktivis Dakwah Sekolah Alumni (ADSA). dan, tentu saja dengan berubahnya status mereka dari pelaku teknis menjadi konseptor seharusnya mulai merubah cara gerak dan pikir mereka seratus delapan puluh derajat.

Oleh karena itu, tulisan ini dibuat untuk para al-akh alumni pejuang dakwah sekolah yang mulia, semoga seluruh permasalahan yang dipaparkan disini bisa menjadi gambaran tantangan kedepan dan solusi yang terbaik bisa dihasilkan.

Berbicara soal, dakwah sekolah maka ada banyak hal yang bisa kita lakukan dalam rangka menggarap lahan dakwah yang satu ini. tapi, ada satu permasalahan yang dirasa sangat krusial dan sering terjadi, yaitu Kaderisasi Alumni

persoalan kaderisasi ini bukanlah persoalan yang mudah, karena berbicara soal kuantitas dan kualitas. kuantitas yang besar pada kekuatan ADSA secara langsung mempengaruhi sejauh mana sebuah Forum Alumni bisa bergerak, Sedangkan kualitas yang mumpuni secara langsung mempengaruhi sejauh mana Forum Alumni bisa berdaya guna.

Jika kuantitas berbicara soal banyaknya jumlah yang bergabung, maka kualitas berbicara soal seberapa jauh alumni – alumni tersebut dapat bertranformasi tidak hanya dari sekedar mentor agama, tapi juga mentor ‘ilmiy, pelatih klub olahraga, demisioner ekskul, muwajih dan lainnya. dari segi fungsi, besarnya kuantitas mempermudah melakukan syiar yang sifatnya event organizer yang membutuhkan banyak tangan untuk bekerja : Pesantren Kilat, Tabligh Akbar, dan sebagainya. sedangkan tingginya kualitas menentukan sejauh mana kita bisa memastikan bahwa setiap lini terisi oang – orang dengan tingkat kefahaman yang cukup.

Permasalahan yang kedua, ada di ranah siyasi. memang, umumnya kata – kata siyasi lebih dekat dengan kegiatan pada ranah yang memiliki mature lebih tinggi. tapi, syarat mature menjadi tidak relevan untuk dijadikan justifikasi pengecualian dakwah sekolah dalam tataran siyasi.

seperti yang kita tahu, bahwa kegiatan dakwah didefinisikan sebagai kegiatan untuk menundukkan bumi –dan segala yang ada diatasnya- untuk berjalan sesuai syari’at rabbul ‘alamin. kemudian, tersaji fakta bahwa organisasi siswa di sekolah memiliki porsi yang besar baik dalam segi kuantitas perekrutan,maupun bargaining position. Dengan fakta – fakta yang ada tersebut ranah siyasi disekolah, menjadi hal yang patut dijadikan parameter untuk mengapai kondisi ‘futuh’. dan tentunya, siyasi pada tingkat sekolah yang sangat mungkin dilakukan adalah …. taraf organisasi level siswa.

Boleh jadi ini hanyalah gejala awal ketika sebuah perubahan muncul. kita melalui masa transisi, dan tentu saja, seperti penyakit kebanyakan perubahan revolusioner : kita gagap.

Pada tingkat siswa, masalah muncul dari segi kuantitas pengambil keputusan yang terbatas, dan rekrutmen yang rendah. kemudian, orang yang sedikit ini pun tidak sepenuhnya paham bagaimana dan teknis selanjutnya. sehingga, umumnya yang terjadi adalah semua dibiarkan mengalir tanpa ada aturan – aturan yang jelas. opini umum, legitimasi, pemilihan kekuasaan, dan banyak hal.

Pada tingkat yang lebih konseptual, dimana semua ide bercampur dan dimatangkan, masalah muncul dari segi eksekusi. selalu ada gap di setiap keputusan yang dibuat. ide yang tidak berhasil dimatangkan hari ini, belum tentu menjadi matang esok hari. bisa jadi matang 2 minggu lagi, 3 minggu lagi,  and so on … pun, dengan ide yang sudah matang muncul kendala besar untuk mem-floor kan hal tersebut kedalam segi teknis.

tapi, memang kalau diusut dan ditarik benang merah, dua masalah diatas dapat diselesaikan dengan Pembinaan yang Benar. Tidak dapat dipungkiri bahwa proses membina adalah salahsatu mata rantai pada arus siklik pergerakan. begitu pembinaan rusak, maka semuanya rusak.

karena, secara teoritis kita dapat mengatakan, bahwa membina adalah sebuah proses untuk menggudangkan orang – orang yang baik. dari segi pemahaman, maupun segi teknis. segi pemahaman dapat diperkaya dengan kegiatan yang kotinyu, segi teknis dapat diperkaya dengan pelatihan – pelatihan insidental.

Tags: , , , , , ,

Leave a Reply