Posting dengan Perut Keroncongan

Posted by

Leader and Followersgue kira tulisan ini memang dibuat atas dasar pemikiran dan tradisi merenung semata (karena memang gue tidak bergelut secara kental didalamnya) dan disini kebanyakan, gue bertindak sebagai orang ketiga diluar itu semua.

jadi, ya sok mangga kalo mau dikomen 🙂

 

Catatan : gue tahu, judulnya emang aneh ….. makanya gue jarang mau berpikir ataupun ngapain – ngapain …. terutama kalo LAPER ! jadi, gue sangat berterima kasih bagi yang mau ngasih ide buat judul …..


Siyasi dan Syi’ar

Oke, 2-2nya ini adalah bahasa dewa dari politik dan pewarnaan. dan, keduanya erat banget sama bi’ah islamiah. alangkah baiknya sebelum meracau lebih jauh, kita definisikan dulu satu-satu.

siyasi, atau politik disini mari kita defisinikan sebagai kegiatan memanajemen sumber daya manusia yang ada untuk ditempatkan pada posisi yang strategis. dimana diharapkan, nantinya dapat berfungsi sebagai pengokoh kebaikan di lingkungan kita.

syi’ar,  sebetulnya gue sendiri gak dapet arti dari syi’ar itu apa. tapi, secara etimologis syi’ar berarti simbol, lambang kebesaran. tapi gue rasa, akan lebih pas kalo dalam bahasan kali ini kita definisikan sebagai sebuah kegiatan untuk mewarnai kehidupan kita dengan bi’ah (nilai-nilai) islam.

kenapa kedua hal ini gue sorot karena, sebetulnya 2 hal ini sangat erat berkaitan, tapi seringkali menjadi tumpang tindih, yang menyebabkan yang satu menghabiskan yang lain.

Struktur Ummat

Hmmm, alangkah baiknya kalo kita melatarbelakangi pembahasan kali ini dengan struktur realitas masyarakat yang ada saat ini.

umumnya, secara garis besar masyarakat dibagi menjadi 2 bagian : eksekutif dan grass root. dan uniknya, masing-masing memiliki fungsi tersendiri di masyarakat.

eksekutif, adalah sekumpulan orang-orang yang merumuskan kebijakan-kebijakan tertentu. grup ini cenderung sedikit, eksklusif dan untouchable. fungsi mereka, sebetulnya tidak lebih dari penunjuk dan peretas jalan.

sedangkan grass root adalah semesta dikurangi eksekutif, alias masyarakat umum. grup ini cenderung massif, inklusif (terbuka), dan ….. susah diatur. grass root inilah yang akan melalui jalan – jalan yang telah dibuat oleh para eksekutif. tapi, dari grass root ini juga lah yang akan memunculkan wacana-wacana dan opini-opini yang akan mempengaruhi pandangan dan penilaian masyarakat akan sesuatu.

dan nyatanya, kita hidup di dunia -dan negara- yang mengusung demokrasi, dimana parameter ‘setuju’ atau ‘tidak setuju’ ditentukan oleh kuantitas, menafikan bahwa ide yang diusung positif atau negatif. disinilah yang menjadi kunci penting, bahwa grass root memegang peran yang gue anggap, bahkan lebih strategis daripada eksekutif itu sendiri. karena yang jelas Grass root selalu lebih banyak dari eksekutif.

The Power of Power

Kekuasaan itu sendiri, dalam dunia ini menjadi alat yang begitu strategis dalam berbagai hal. ya, berbagai hal. bisa dilihat dari teori Machiavelli, yang beranggapan bahwa ‘Il principe’ hendaknya adalah seseorang yang bisa bertindak sangat baik atau sangat buruk.

jadi, memang dalam hidup keseharian perlu diakui bahwa kita tidak dapat meninggalkan kekuasaan ditangan – tangan orang yang tidak mendukung pada kebaikan, apalagi membiarkan kekuasaan itu sendiri menjadi alat keburukan. karena kekuasaan ini kedepannya dapat kita jadikan sebuah alat untuk mengokohkan dan memberikan landasan hukum tertulis, yang nantinya berujung pada legalnya syi’ar itu sendiri.

contoh sederhana dari kekuatan kekuasaan yang sudah berhasil meng-konstitusi adalah sulitnya ajaran komunis untuk berkembang di negara kita….. ya, secara sederhana seperti yang kita tahu, itu tercantum dalam hukum tertulis kita.

dan, memang ‘memainkan’ power itu sendiri, gue akui adalah suatu pekerjaan yang benar – benar memacu adrenalin. karena seakan – akan kita ‘bertaruh’ segalanya disini. mungkin tidak aneh, kalo sendainya ‘permainan’ ini lebih dipilih oleh kebanyakan decision maker. dan, sesuatu yang memacu adrenalin itu jika berhasil secara biologis akan memacu hormon yang membuat kita ……

nge-fly. senang. campur aduk. 

dan sialnya, kebanyakan pengambil kebijakan setelah sampai titik ini terlena dan hanyut begitu saja.

padahal kalo gue analisa, acara insidentil untuk memainkan ‘the power’ ini sebetulnya bukanlah sebuah hal yang progressif. karena bayangkan, periode tahun ini kita memikirkan penempatan, maka periode tahun depan, kita akan memikirkan suatu substansial yang sama, dengan progress yang mungkin diulang lagi dari 0.

jadi, kita akan melakukannya berulang-ulang, dari periode kepengurusan yang satu hingga ke yang lain. yang membedakan hanya ‘tantangan’ faktor eksternal.

Syiar …. Tenang & Krusial

Coba kita tinjau lebih dalam lagi. memang syi’ar itu sangat sangat tidak memacu adrenalin, kebanyakan pada ranah ini membutuhkan orang – orang yang konsisiten dalam pekerjaannya, sehingga warna warna kebaikan terpancar secara kotinu.

tapi, disinilah sebetulnya ‘kekuatan’ syiar itu sendiri. suatu hal yang kontinu dilakukan, diharapkan akan menginternalisasi, atau minimal membentuk opini di masyarakat untuk simpatis terhadap kebaikan, atau bahkan mendukung dan bergabung dengan para duat.

dan, kalo dilihat kedepannya syiar bisa diberikan parameter-parameter tertentu -secara matematis- yang nantinya bisa dijadikan satuan nilai progressif kita.

Misal, secara bayang-bayang real,

kita mengagendakan untuk tahun kepengurusan ini, kita menghilangkan kebiasaan merokok, maka di-floor-kan ke grass root tadi, bahaya rokok, kita buat spanduk atau stiker larangan merokok,persempit ruang gerak perokok, dan yakinkan bahwa memang rokok itu adalah sesuatu yang merugikan. kita buat masyarakat berpikir seperti apa yang kita inginkan. dan perubahan ini bisa kita jadikan angka yang akan menunjukkan tingkat keberhasilan kita.

maka setelah berhasil, tahun kepengurusan depan kita bisa beralih melangkah ketahap yang lebih jauh lagi, dan seterusnya.

jadi, selalu ada progres yang bisa kita pantau secara data konkrit. dan yang penting adalah target dari syiar itu adalah pembentukan wacana dan internalisasi lingkungan kita menjadi ‘what we think‘. bahasa dewanya …. Rabtul ‘Amm.

yang perlu dipahami dari semuanya adalah 2 hal ini berjalan beriringan. kurang bijak sepertinya jika kita mengambil titik ektrim. entah berat ke yang siyasi, maupun syiar. karena yang satu berbicara soal kekuatan dalam memukul, dan yang lain berbicara soal ketepatan memukul. kalo mengutip Anis Matta, dalam Menikmati Demokrasi, maka tahap – tahap pemenangan kebijakan melalui beberapa tahap :

Pertama, Pemenangan wacana publik. ini erat banget sama grass root. dan syiar tadi. dan kata Anis Matta, “Ini adalah kemenangan pertama yang menentukan kemenangan selanjutnya”

Kedua, formulasikan wacana tadi menjadi draft hukum untuk dimenangkan secara legislatif. inilah yang akan melegalkan segala ruang gerak aktivitas kita. dan inilah yang menjadi domain siyasi.

Ketiga, Memastikan adanya eksekusi. dengan adanya sandaran yang pasti, maka kita pastikan semuanya bekerja.

yang jelas, segalanya harus dilakukan sebanding….. walau tidak sama besar. wallahu’alam.

 

 

perut keroncongan.

8 jam menuju UAS Pengantar Matematik.

Tags: , , ,

6 Responses

  1. Terinspirasi buku anis matta ya?
    Saya suka ide dasarnya, menganalisa kaitan siyasi dn syiar. Meskipun beberapa konsep ttg siyasi ketatanegaraannya memang ada yg perlu diperbaiki, tapi ide dasar membuat tulisan ini ga gampang.
    nice post, cenna!

    • monox says:

      Ini teh lia apdet amaaat -____-
      Jaga warnet ya teh ? *huehehehe

      Iya, ini tuh kalo dikampus kerasa banget. Dimana saat pemilihan raya semua sumberdaya keluar …. tapi abis pelantikan ? Wah, ga kerasa …
      Eh koreksi yg salah sebelah mana ?

      • Lalllalallalallllaaa says:

        Umm, tentang pembagian masyarakat. Sebenarnya dalam kajian ekonomi politik, tatanan masyarakat kita ini terbagi menjadi 3: Pemerintah (eksekutif), para pemilik modal (pengusaha) dan masyarakat sipil. Para pemilik modal misalnya sebut saja: b*kr*e. Beliau bukan bagian dari eksekutif tapi punya kekuasaan yang cukup besar dalam menetapkan kebijakan di negara kita.

        Saya justru sangsi ketika grass root dinilai sebagai kunci penting dan strategis dalam tatanan negara kita sekarang ini. Para elit yang berkuasa di negeri ini justru kelompok2 minoritas. Hebat ya, padahal asal muasal esensi politik yang dicetuskan oleh aristoteles dan pengikut2nya adalah ide ttg perlunya “kewenangan berada di ranah publik” sebagai kritik dari sistem oligarki yang berkembang pada saat itu. Dan aristoteles dari jaman batu udah pesen, bahwa politik itu goalnya “publik policy” bukan kekuasaan. Artinya, konsep politik yang terjadi selama ini memang sudah berganti arah.

        Jadi cen, goal siyasi pada dasarnya tidak berujung pada kekuasaan. Melainkan ‘public policy’ atau bahasa sederhananya: kebijakan publik. Sebuah rencana-rencana kebaikan yang tersusun rapi untuk kemudian bisa dilaksanakan dengan kekuasaan yang dimiliki.
        Kalo kita terapkan di kampus atau sekolah, seringkali perencanaan heboh kita hanya sampai pada “merebut posisi2 strategis” tapi tidak dengan “what next?”, Dengan kata lain, kita mudah merencanakan siapa akan diusung menjadi apa dengan berbagai macam manuver tapi kita lupa menyusun perencanaan yang matang tentang kebaikan apa yang dihasilkan jika si ikhwah itu duduk di jabatan tersebut. Yeah, bisa dibilang lah..model2 berfikir aktifis kaya gini ga akan jauh beda sama para elit politik kita yang sedemikian bersemangatnya ketika mengejar kekuasaan tapi bingung setelah dikasih jabatan mau ngapain.

  2. ibon says:

    *manggut-manggut

  3. .bulanbiru. says:

    waa sena bacaannya beraat… *saya belom beres baca menikmati demokrasi, heu.
    kalau hasil ngobrol dengan teman2 di kampus.. ya, sebenernya, kemenangan di siyasi seharusnya memang diawali dengan syiar… cuman emang banyak banget yang kebalik-balik sekarang ini, heu.

    jadi inget, ada seorang alumni yang bilang,
    “sebenernya, SMANSA itu bakal FUTUH kalo prokernya DAKWAH UMUM jalan dengan optimal!”

    ya, memulai dengan syiar terlebih dahulu…

Leave a Reply