Rabbani, Tanda Bersyukur

Posted by

Feeding timeSebetulnya ini tulisan buat essay PEGAS 2011 kemaren judulnya ‘Rabbani, Tanda Bersyukur’ …. tapi berhubung lombanya udah selesai, dan supaya bisa banyak yang baca, gue share disini ….

Tahun 1545 – 1548 bisa jadi merupakan 3 tahun yang kelam di Florence, Italia. Alkisah, dimana gereja berkuasa dan kota dipimpin oleh keluarga Medici yang sangat mencintai seni, membuat perayaan, pesta, penggalian agama berdasarkan perspektif Yahudi-Nasrani-Islami merajalela. pesta pora serta teriakkan ‘Panjang umur Dewa Anggur ! Hidup Hasrat Hati’ menggema di seantero kota. hal ini, diperparah dengan kebiasaan paus saat itu yang sangat senang menghambur-hamburkan uang dengan melukis gereja dengan lukisan pelukis terkenal seperti Michaelangelo.

Seorang padri yang berordo Dominikan, Girolamo Savonarola, berdiri menyampikan khutbahnya. mengkritik habis kebiasaan foya-foya penguasa, bersumpah akan menusuk lidah orang yang tertuduh menghujat Tuhan, dan membakar rumah orang yang tidak menghadiri misa.

Tapi, sial bagi Savonarola, Paus yang berkuasa saat itu berasal dari keluarga Medici. Alhasil, Savonarola lah yang dituduh sebagai bidat.

akhirnya, cerita ini berakhir dengan dihukumnya Savonarola dengan cara khas gereja : Dibakar.

Mendengar kisah diatas, kita dapat membayangkan sebuah kengerian dimana agama malah menjadi sebuah dogma yang ‘menakutkan’ bagi penganutnya dengan deretan aturan-aturan kaku dan siksaan yang tidak manusiawi. Sungguh berbeda dengan keadaan sebaliknya yang terjadi disaat gema Takbir bergemuruh di Makkah dan Madinah, disaat diskusi ilmiah, penemuan-penemuan canggih,dan ribuan buku ditulis di Baghdad, atau di saat keran-keran air terbuka lebar mengucurkan air suci untuk thaharah di damaskus.

Sungguh terjadi perbedaan yang kontras, disatu sisi eropa mengalami masa kelam akibat ‘doktrin agama’ sedangkan di belahan dunia yang lain justru mengalami ‘pencerahan’ akibat Islam. Setidaknya Islam menunjukkan bahwa, Islam tidak mengajarkan dogma-dogma rumit pengekang manusia, malahan Islam membuktikan diri bahwa ia bersifat rabbani, rabbani secara bahasa menurut Ibnul Anbari adalah kata dasar rabb yang berarti Sang Pencipta dan Sang Pengatur Makhluk, yaitu Allah. Lalu ditambahkan imbuhan alif dan nun yang menyatakan hiperbola. maka, arti rabbani adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Maka hal ini merupakan sebuah keniscayaan bahwa kaidah-kaidah yang ada didalamnya pastilah merujuk pada nilai-nilai ilahiyah yang sesuai dengan fitrah manusia.

Konsep rabbani ini pun tidak hanya sebagai idealisme fiktif semata, konsep ini ditunjukkan oleh sang pembawa risalah itu sendiri, Muhammad Shalallahu’alaihi wa Sallam.

Beliau bukan hanya terkenal sebagai pemuka agama semata, beliau juga seorang panglima perang yang tiada tandingan. tidak kurang dari 27 kali beliau menggeluti ghazwah (perang yang beliau pimpin sendiri) dan 35 kali shariyah (perang yang dipimpin oleh sahabat).

beliau juga terkenal sebagai negosiator cerdas, saat menyelesaikan permasalahan hajar aswad yang melibatkan para pemuka kaum Quraisy.

Orator ulung yang bahkan, sanggup untuk berkhutbah semenjak shubuh hingga dzuhur, dilanjut lagi ashar hingga maghrib tanpa seorang pun mengantuk dan bosan. bahkan sahabat beliau terbawa perasaan sendu, dan bercucuran air mata.

Tapi, prestasi besarnya sebagai “Orang luar Rumah” tidak menurunkan kulitas dan statusnya sebagai “Orang dalam Rumah”.

Sebagai kepala negara yang sibuk, ia masih sempat berkunjung kerumah putri dan menantunya, Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib.

Ia, adalah seorang suami yang masih sempat berlomba lari dengan sang istri. memanggilnya dengan panggilan sayang Khumairaa (Yang pipinya kemerahan), bahkan masih sempat menambal baju yang robek, membersihkan terompah, menggiling gandum atau bahkan memerah susu.

Kehebatan dan kebesarannya pun tidak membuat ia sombong dan lupa diri, ia masih tetap sebagai teman bergaul yang menyenangkan, bergaul dekat, bermain dengan anak-anak, bahkan memangku balita.

Islam memang agama yang Rabbani, yang akhirnya selalu bersifat ideal, tetapi tidak menafikan bahwa manusia hadir dengan keunikan individu masing-masing yang membedakan individu satu dan lainnya. Ketika Islam berbicara soal idealisme, maka keunikan Individu berbicara seorang manusia adanya. Sehingga, yang harus dilakukan oleh seorang muslim adalah mempertemukan antara kesempurnaan mutlak risalah, dan keunikan pribadi indvidu.

Karena, konsep islam adalah shibghah. menurut Ustadz Salim A. Fillah, Menjadi seorang muslim bagaikan menjadi sebuah kain berwarna putih yang siap diperindah dengan berbagai warna-warni ilahi, ketegasan, kesejukan, keceriaan, dan rahmat bagi semesta alam.

Mari kita lihat kisah Utsman bin Affan, seorang pemalu yang berakhlak mulia, pemilik dua cahaya. Ia malu bukan hanya kepada manusia, tetapi juga malu kepada yang lebih tinggi dari itu, ia malu kepada Tuhannya. Ia malu, apabila harta benda yang ia punya tidak ikut berjihad dan turut membantu meringankan masalah ummat, maka 1000 unta penuh muatan ia bagikan secara gratis, ia beli sumur Raumah walau harus berhadapan dengan kelicikan Yahudi.

Atau kita lihat kisah Umar ibn Khattab, berbadan besar, tegap, yang dengan bersinnya mampu membuat empat makmum terjengkang saat merapikan shaf shalat. Ia menjadi pembeda, Al-Faruq. Terngiang kata-kata Ibnu Mas’ud, “Islamnya Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kepemimpinannya adalah rahmat  bagi orang beriman”. Maka kita tahu bahwa Umar memanjat Ka’bah, menunjukkan kegagahan islam dan berteriak menantang Kafir Quraisy ketika hijrah. “Barangsiapa yang ingin istrinya menjadi janda, anak-anaknya menjadi yatim, dan ibunya menangis terus menerus, maka hadanglah Ibnu Al-Khattab dibalik bukit ini !” serunya.

Atau Kisah Abu Dujanah yang congkak. Tetapi, ia mewarnai kecongkakannya dengan jihad fi sabilillah. Ikat kepala merah, membusungkan dada, berjalan penuh gaya, hingga rasul berkata “Allah membenci yang seperti ini, kecuali dalam peperangan di JalanNya”. dan di akhir cerita Abu Dujanah syahid dan akhirnya disambut 70 bidadari.

Islam yang Rabbani menuntut pula sifat yang Rabbani dari penganutnya, karena sepanjang sejarah, tidak pernah ada seorang pun yang berhasil menerapkan sistem ketika ide dari sistem tersebut tidak menjadi watak orang-orang yang pendukung sistem.

Banyak ahli tafsir yang merincikan tentang seorang yang Rabbani, dan salahsatunya adalah Imam Ibnu jarir Ath Thabari. dalam Jami’ul Bayaan fil Ta’wilil Quraan yang merincikan sifat seorang Rabbani sebagai berikut :

1. Alim dan Mutsaqqaf

Ilmu yang dipelajari pun tidak terbatas hanya pada ilmu Agama semata, menurut Imam Al-Ghazali, “Bisa jadi fiqh itu adalah agama duniawi. dan boleh jadi kedokteran dan ilmu pertekstilan adalah ilmu akhirat”.

Logikanya, menurut ustadz Salim A. Fillah mengutip dari pendapat Imam Al-Ghazali, ambil contoh soal Zhihar. Dimasa jahiliah status istri menjadi tidak jelas, sedangkan pada masa islam Zhihar menjadi jelas ketentuannya. dan pembahasan yang berpelik-pelik, jika begini, jika begitu, seperti yang dilakukan ahli fiqh saat itu, hanya mencari kesenangan semata.

Tapi, sedikitnya jumlah dokter muslim yang terjadi menyebabkan orang-orang muslim yang terkena penyakit pencernaan ketika bulan Ramdhan menjelang berbondong-bondong meminta fatwa kepada dokter Yahudi dan Nashrani. demikian juga saat minimnya perancang busana muslim. maka, makin banyak model pakaian dan jahitan yang trendnya tidak sesuai dengan adab-adab islam.

2. Faqih

Seorang yang Rabbani, dituntut untuk memiliki wawasan yang luas, dan bahkan lebih dari itu, ia dituntut untuk faqih. faham.

Menukil pendapat Imam Asy-Syafi’i, “Kalian, para ahli hadist adalah apoteker, sementara kami para fuqaha adalah seorang dokter”. Seorang dokter, tidak hanya memandang secara kontekstual, tetapi melihat realita dan keadaan, sehingga bisa menghasil satu fatwa yang pas.

3. Al-Bashira bi al-siyâsah (Melek Politik)

Seorang yang rabbani dituntut agar melek politik, supaya ia bisa keluar dari kekerdilan jiwa yang hanya menshalihkan diri sendiri. ia berpolitik, untuk bersedia menanggung urusan ummat. Karena politik, erat dengan pemerintahan. “Dan Pemerintahan”, kata rasul,”Adalah salahsatu sendi Islam yang pertama kali akan lepas”.

Kenapa kita butuh seorang yang rabbani dalam pemerintahan ? Hal yang menarik keluar dari perkataan Utsman bin Affan “Sesungguhnya Allah mencabut apa-apa yang tidak bisa dicabut alquran dengan pemerintahan”. maka, kita butuh seseorang yang berafiliasi dengan islam untuk menjalankannya.

4. Al-Bashira bi al-tadbîr (Melek Manajemen)

Mari kita lihat kisah nabi yang selalu tepat dalam menempatkan sumber daya manusia pada tempatnya. Right man on The Right Place.

 Ada Hudzaifah yang ditunjuk sebagai mata-mata saat perang Khandaq, kemudian kita tahu setelah wafat nabi Hudzaifah menjadi seorang ahli mata-mata kaum muslimin

Ada ‘Amr bin Al’Ash yang ditunjuk untuk menjadi komandan sahabat yang lebih senior seperti Abu Bakr dan Umar yang menyelesaikan peperangan pada kabilah dengan cara diplomasi, dan kita tahu bahwa pada perseteruan Ali bin Abi Thalib dan Muawwiyah, ia menjadi juru bicara Muawwiyah yang utama.

5. Al-Qiyâm bi syu-ûn al-ra`iyyah wa mâ yushlihuhum fî dun-yâhum wa dînihim

Pada poin ini, seorang yang rabbani dituntut untuk berkontribusi di masyarakat. Kontribusi yang dimaksud, menurut Anis Matta, adalah keadaan dimana seorang muslim telah terintegrasi dengan lingkungannya, berusaha meningkatkan efisiensi dan efektivitas hidupnya. hal ini dengan cara cara menajamkan perannya, yang kemudian menjadi “amalan unggulan” yang akan ia berikan pada Allah, ummat, dan kemanusiaan pada umumnya.

Maka inilah syukur. “Syukur itu”, kata Imam Ibnu Rajab, “dengan hati, lisan dan anggota badan”. Maka syukur dengan hati dilakukan dengan cara mengetahui nikmatnya, ibrah yang bisa kita ambil dibaliknya, diharapkan dari sini kita bisa mengenal siapa pemberi nikmat itu. Kalau sudah mengenal, tidak mungkin tidak kita bisa merasa cinta. dan cinta tidak bisa disimpan hanya dalam hati, cinta juga butuh deklarasi. Maka selanjutnya, setelah mengenal kita diperintahkan untuk melafalkannya dengan lisan, fahaddist, sebut-sebutlah dengan berzikir. dan yang terakhir adalah melakukannya dengan anggota badan. Karena nikmat tidak cukup hanya untuk diri sendiri, perlu ada action untuk mendistribusikannya ke sekelilingnya, lebih dari sekedar menjaga agar nikmat tersebut tidak digunakan sebagai keburukan, tapi lebih jauh lagi, nikmat tersebut digunakan untuk menebar kebaikan. Dan mereka itulah para manusia rabbani, orang yang keluar dari kesempitan jiwa untuk keluar mendistribusikan keshalihannya. []

Tags: , ,

8 Responses

  1. Lallllaalala.. says:

    Bagus, cenna..
    Sayang ya ga jadi dimasukin ke lomba essay pegas

  2. .bulanbiru. says:

    keren tulisannya.. pake riset, nih 🙂
    *seriusan tulisan saya pendek dan sederhana banget dibandingin ini.. ntar sy post juga deh di blog

    congrats!

    sedikit koreksi: typho-nya msh ada nih, dikit2 tp nyebar. mungkin sena butuh beta-reader?

  3. hening says:

    *keprok keprok*

  4. fillah says:

    barokalloh…

  5. Zulfikar says:

    Subhanallah, kalo lagi bener, si sena boleh juga tulisannya… lanjutgan …. 😀

  6. awanbiru says:

    keren sen. serius.

Leave a Reply